Jumat, 20 Februari 2009

Sial...

Bulan ini rasanya adalah bulan paling sial dalam hidupku. Bayangkan saja, setiap minggu selalu ada saja kejadian yang menyebalkan. Dan yang paling menyebalkan, semuanya gara-gara kelalaianku sendiri. Jadi, tidak ada tempat untuk menumpahkan kekesalan, tidak ada yang jadi kambing hitam untuk kujadikan sasaran kesebalanku.

Kejadian pertama di awal bulan, aku kehilangan buku catatan Biologi. Gila, padahal ini sudah menjelang akhir tahun ajaran, dan siapapun tahu kalau catatan Biologi itu yang paling banyak tulisan dan gambarnya, sebab Pak Artono, guru Biologi kelasku, memang paling rajin memberi catatan, bahkan lebih lengkap dari buku wajib. Setelah membongkar seluruh isi lemari buku, bahkan hampir membongkar seluruh isi kamar, aku tetap tidak berhasil menemukannya. Tidak ada jalan lain, selain mencatat ulang lagi. Jadi, selama satu bulan, kegiatan sore hariku tidak lain adalah menulis dan menggambar saja.

Kejadian kedua adalah ketika ikut acara kemping kelompok pecinta alam. Acaranya memang seru, kami sempat berjalan menyusuri sungai diantara tebing-tebing untuk menuju ke air terjun. Walaupun berat, tapi setiba di sana, pemandangannya sungguh menawan. Semuanya mendadak menjadi foto model, menjepret sana dan sini sampai kehabisan film, meskipun dalam keadaan berbasah-basah. Pulang kembali ke perkemahan, baru kusadari, aku ketinggalan celana cadangan. Mencoba mencari di antara berbagai barang dalam ransel, tetap tak kutemukan. Meminjam jelas tak mungkin. Alhasil, sepanjang sore sampai esok paginya, aku terpaksa berbasah-basah terus. Rasanya, jangan ditanya, selain dingin juga tak nyaman. Apalagi, setiap berbapasan dengan orang, selalu ditanya,”Koq enggak ganti celana basahnya?” Sebal…

Kupikir cukup sudah dua kejadian yang kuanggap sial itu. Tapi gara-gara Yani, adikku, terjadi juga kesialanku yang ketiga. Ceritanya begini, setiap hari, sisa uang saku yang receh selalu kutinggalkan begitu saja di meja belajar. Namun belakangan ini, uang receh itu sering hilang. Padahal kalau dikumpul-kumpulkan, jumlahnya lumayan. Selidik punya selidik, ternyata Yanilah yang suka mengambilnya. Tanpa merasa bersalah lagi. Alasannya, ia lagi hobi-hobinya makan coklat, tapi uang jajannya tak cukup. Maka ketika dilihatnya ada uang receh tergeletak di mejaku, dianggapnya sudah tidak kuperlukan lagi. Setiap tiga hari sesudah terkumpul cukup, dibelinya Van Houten rasa kacang almon kesukaannya.

Untuk mencegah kehilangan lagi, akhirnya aku membeli sebuah celengan yang terbuat dari bahan plastik keras. Bentuknya seperti tong kecil dengan tulisan ‘Anti Pecah’. Aman, kupikir, karena selain lubang untuk memasukkan uang, tidak ada pintu keluar lainnya. Maka tiap hari kusimpan uang receh sisa uang sakuku ke dalam celengan itu. Rencanaku setelah penuh, akan kugunakan untuk membeli tas ransel Eiger impianku. Maka, minggu kemarin, ketika kurasa sudah cukup penuh, aku berencana memecahnya. Memecahnya? Lho bukannya ini anti pecah? Dan tidak ada lubang lainnya, selain celah kecil di atas untuk memasukkan uang. Setelah mencoba membanting dengan berbagai cara, bahkan sampai kujatuhkan dari lantai dua, aku menyerah. Pabrik celengan ini benar-benar menjaga mutunya. Celengan anti pecah ini benar-benar tidak dapat dipecahkan. Sekarang, benda itu masih kuletakkan di rak atas meja belajarku, dan terpaksa kurelakan sisa uang sakuku untuk jajan Yani.

Minggu terakhir, aku rasa sudah terbebas dari tiga kejadian sial itu. Ternyata masih ada lagi. Minggu sore hari, aku tidak kemana-mana. Rencananya, aku ingin menulis surat untuk Adinda tersayang yang ada di seberang sana. Terinspirasi lagu Obbie Mesakh, maka kuambil selembar kertas buku tulis, dan mulai menjalin kata, mengucap hati rindu. Tiba-tiba Yani muncul tanpa mengetuk pintu kamarku. Katanya kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang. Ia minta dibuatkan surat izin untuk tidak masuk hari Senin besok. “Iya, nanti kubuatkan. Aku mau nyelesaikan surat untuk pacar dulu nih!” Kataku kepadanya. Yani berlalu sambil mencibir, “Huh, sok sibuk. Eh, tapi jangan lupa sekalian di kasih ke guru piket besok ya!” Pintanya.

Hari Selasa, sepulang sekolah, Yani ngomel-ngomel. “Gimana sih Kak, suratnya ngaco nih. Aku dimarahi guru piket tadi! Nih, suratnya dibalikin” Ujarnya sambil uring-uringan. Aku terkejut. Waduh! Jangan-jangan surat cintaku salah kasih ke sekolah. Buru-buru kubuka amplop yang di sodorkan Yani. Aku bernafas lega, setelah tahu isinya kertas kosong. Berarti aku salah memasukkan surat. Segera aku memeriksa meja belajarku dan menemukan amplop untuk pacarku yang belum dikirim. Kubuka isinya dan ternyata surat izin Yani ada di dalamnya. Jadi, kemana surat cintaku itu? Aku melihat rak di samping meja yang biasanya berisi tumpukan kertas, koran dan majalah. Biasanya, aku suka sembarang meletakkan kertas-kertas di sana. Tempat itu sekarang bersih. Pasti sudah dibereskan Mbok Yem. Segera aku memburu ke belakang mencari Mbok Yem.

“Mbok… tumpukan kertas-kertas di samping mejaku ada dimana?” Tanyaku tergesa-gesa.

“Oh… sudah tak kumpulkan dengan koran-koran bekas lain…” Jawabnya acuh tak acuh sambil beres-beres dapur.

“ Lalu…. disimpan dimana?”

“Lha kertas dan koran bekas ngapain disimpan? Ya sudah tak jual ke tukang loak.”

Aku terkesiap.

Suratku pasti terselip diantara koran dan kertas lainnya. Malunya aku kalau orang lain tahu isinya.

“Mbok… apa tukang loaknya masih buta huruf…..?”

*** by Didit K: 1985 ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar