Bulan ini rasanya adalah bulan paling sial dalam hidupku. Bayangkan saja, setiap minggu selalu ada saja kejadian yang menyebalkan. Dan yang paling menyebalkan, semuanya gara-gara kelalaianku sendiri. Jadi, tidak ada tempat untuk menumpahkan kekesalan, tidak ada yang jadi kambing hitam untuk kujadikan sasaran kesebalanku.
Kejadian pertama di awal bulan, aku kehilangan buku catatan Biologi. Gila, padahal ini sudah menjelang akhir tahun ajaran, dan siapapun tahu kalau catatan Biologi itu yang paling banyak tulisan dan gambarnya, sebab Pak Artono, guru Biologi kelasku, memang paling rajin memberi catatan, bahkan lebih lengkap dari buku wajib. Setelah membongkar seluruh isi lemari buku, bahkan hampir membongkar seluruh isi kamar, aku tetap tidak berhasil menemukannya. Tidak ada jalan lain, selain mencatat ulang lagi. Jadi, selama satu bulan, kegiatan sore hariku tidak lain adalah menulis dan menggambar saja.
Kejadian kedua adalah ketika ikut acara kemping kelompok pecinta alam. Acaranya memang seru, kami sempat berjalan menyusuri sungai diantara tebing-tebing untuk menuju ke air terjun. Walaupun berat, tapi setiba di
Kupikir cukup sudah dua kejadian yang kuanggap sial itu. Tapi gara-gara Yani, adikku, terjadi juga kesialanku yang ketiga. Ceritanya begini, setiap hari, sisa uang saku yang receh selalu kutinggalkan begitu saja di meja belajar. Namun belakangan ini, uang receh itu sering hilang. Padahal kalau dikumpul-kumpulkan, jumlahnya lumayan. Selidik punya selidik, ternyata Yanilah yang suka mengambilnya. Tanpa merasa bersalah lagi. Alasannya, ia lagi hobi-hobinya makan coklat, tapi uang jajannya tak cukup. Maka ketika dilihatnya ada uang receh tergeletak di mejaku, dianggapnya sudah tidak kuperlukan lagi. Setiap tiga hari sesudah terkumpul cukup, dibelinya Van Houten rasa kacang almon kesukaannya.
Untuk mencegah kehilangan lagi, akhirnya aku membeli sebuah celengan yang terbuat dari bahan plastik keras. Bentuknya seperti tong kecil dengan tulisan ‘Anti Pecah’. Aman, kupikir, karena selain lubang untuk memasukkan uang, tidak ada pintu keluar lainnya. Maka tiap hari kusimpan uang receh sisa uang sakuku ke dalam celengan itu. Rencanaku setelah penuh, akan kugunakan untuk membeli tas ransel Eiger impianku. Maka, minggu kemarin, ketika kurasa sudah cukup penuh, aku berencana memecahnya. Memecahnya? Lho bukannya ini anti pecah? Dan tidak ada lubang lainnya, selain celah kecil di atas untuk memasukkan uang. Setelah mencoba membanting dengan berbagai cara, bahkan sampai kujatuhkan dari lantai dua, aku menyerah. Pabrik celengan ini benar-benar menjaga mutunya. Celengan anti pecah ini benar-benar tidak dapat dipecahkan. Sekarang, benda itu masih kuletakkan di rak atas meja belajarku, dan terpaksa kurelakan sisa uang sakuku untuk jajan Yani.
Minggu terakhir, aku rasa sudah terbebas dari tiga kejadian sial itu. Ternyata masih ada lagi. Minggu sore hari, aku tidak kemana-mana. Rencananya, aku ingin menulis
Hari Selasa, sepulang sekolah, Yani ngomel-ngomel. “Gimana sih Kak, suratnya ngaco nih. Aku dimarahi guru piket tadi! Nih, suratnya dibalikin” Ujarnya sambil uring-uringan. Aku terkejut. Waduh! Jangan-jangan
“Mbok… tumpukan kertas-kertas di samping mejaku ada dimana?” Tanyaku tergesa-gesa.
“Oh… sudah tak kumpulkan dengan koran-koran bekas lain…” Jawabnya acuh tak acuh sambil beres-beres dapur.
“ Lalu…. disimpan dimana?”
“Lha kertas dan koran bekas ngapain disimpan? Ya sudah tak jual ke tukang loak.”
Aku terkesiap.
Suratku pasti terselip diantara koran dan kertas lainnya. Malunya aku kalau orang lain tahu isinya.
“Mbok… apa tukang loaknya masih buta huruf…..?”
*** by Didit K: 1985 ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar