Dina, sahabatku yang setia, juga ikut mengumpat-umpat, “Hebat amat tuh si Anita, sampai bisa diboncengi Anton!”
“Udah ngerayu berbulan-bulan kali… akhirnya kena juga.” Tambah Yeni, sahabatku yang lainnya.
“Menurutku sih, jangan-jangan pakai guna-guna…” Ujarku sembarangan.
“Tapi,
Kami bertiga saling berpandangan, di depan pintu perpustakaan yang dekat lapangan parkir itu. Biasanya kami memang saling bersaing dalam kompetisi untuk mencari perhatian Anton. Tapi kali ini, karena ada musuh baru, tiba-tiba kami merasa senasib. Persahabatan rasanya jadi semakin kuat.
Sebetulnya, selama ini, kami sering berusaha menunjukkan perhatian kami ke Anton. Setiap pertandingan bola basket, dimana Anton menjadi bintangnya, kami selalu hadir dan paling bersemangat memberikan dukungan. Antonpun tampaknya menyadari bahwa kami fans beratnya. Maka setiap ia berhasil mencetak angka, ia selalu berlari ke arah kami, memberikan tos sambil tersenyum, membuat kami yang duduk di bangku terdepan seakan meleleh.
Tapi hari ini aku kesal sekali. Pada Anita, juga pada Anton. Tidakkah ia menyadari bahwa Anita itu seorang anak kuper, yang lebih banyak malu-malunya dibanding bergaul dengan teman-teman lain. Walaupun harus diakui, ia anak paling pandai dalam kelas. Mungkin itu sebabnya, Anton tertarik padanya, sebab rasanya tak mungkin kalau Anita yang berinisiatif mendekatinya duluan, aku beranalisa. Dina dan Yeni juga tampak diam, barangkali mereka berdua juga sedang sibuk beranalisa. Makin dipikir makin kesal rasanya.
##########
Saat istirahat siang, di kantin sekolah, suasana tempat kami berkumpul untuk bergosip jadi penuh bisik-bisik. Topik pembicaraan hangat sambil menghirup teh botol, apalagi kalau bukan, Anton dan Anita, AA!
“Tuh, lihat Din, sekarang Anita sudah berani dandan tuh!” Yeni memulai.
“Iya, jadi menor kayak gitu, ih!” Timpal Dina.
“Gayanya, uh… kecentilan banget sih!”
Berjarak dua meja dari kami, Anita duduk sendirian sambil menikmati mie basonya. Yang tidak biasa adalah, ia mengenakan anting-anting panjang. Sejujurnya, ia jadi tampak lebih manis. Tapi bagi kami saat ini, ia tampak bagaikan seorang nenek sihir!
Selang tak lama, Anton tampak berjalan masuk ke kantin. Serentak kami bertiga memasang wajah paling manis. Ketika Anton melalui meja kami, dengan kompak kami menyapa, “Hai Anton….” Bagaikan koor.
Anton tersenyum ramah, mengangkat tangan kanannya dan berjalan terus. Lalu duduk di meja Anita, berhadapan dengannya dan membelakangi kami. Aku, Dina dan Yeni ternganga. Mereka berdua berbincang dengan asyik, sesekali Anita tertawa tersipu. Oh, sungguh pemandangan yang menyakitkan.
“Kayaknya kita makin kalah set nih.” Akhirnya Yeni membuka suara.
Aku dan Dina seakan tercekat, tak mampu berkata apa-apa. Anton lebih tertarik pada Anita daripada kami bertiga.
“Yuk, mendingan bubar…” Ajakku akhirnya.
Kami bertiga berjalan melalui meja mereka. Saat Anita melihat ke kami, aku memberi pandangan sinis. Biarin, biar ia tahu aku kesal, meskipun mungkin ia tidak tahu sebabnya. Dina dan Yeni pun melakukan hal yang sama. Kami berjalan kembali ke kelas dengan masih sambil menggosipkan mereka berdua.
##########
“Halo Ran!”
Aku memandang ke arah asal suara dan terkejut. Anton!
Ia mengambil tempat duduk di sebelahku, di meja baca perpustakaan. Aku salah tingkah dan berusaha tersenyum ramah kepadanya.
“Tumben, jagoan basket mampir ke perpustakaan…” Aku mencoba menetralisir perasaan dag dig dugku.
“Iya, nyari kamu.” Jawabnya. Senyumnya yang menawan terus dikembangkannya.
Mencari aku? Ah, pangeran, kenapa baru sekarang?
“
“Kangen…”
Apa aku tidak salah dengar?
“Apa Ton?” Tanyaku lagi.
“Kangen sama kamu.” Anton mengulang jawabanya.
Aku terpana. Mata Anton menatap lurus kemataku. Sejujurnya, meski aku naksir dia, tapi kalau berhadapan langsung seperti ini, aku benar-benar salting. Apalagi ia bilang kangen.
Tangan Anton menggenggam tanganku, sambil berkata “Mau sekalian nanya… Sabtu sore besok ada acara?”
“Aku mau ngajak kamu ke acara khusus.”
“Acara apa?”
“Di Bentara Budaya ada acara baca puisi. Seru lho, ada Ben Alkhairy.”
Bagaimana Anton bisa tahu aku suka acara baca puisi. Apalagi sampai tahu seniman favoritku, Ben Alkhairy.
“Boleh Ton. Aku suka.” Jawabku dengan mata berbinar.
“Kalau begitu, aku jemput jam
Aku mengangguk dan terdiam. Diam, karena tidak tahu mau omong apa.
“Ya udah Ran, aku mau balik dulu.”
“Eh, sebentar Ton.” Aku menggamit tangannya, menghentikan langkahnya.
“Kenapa?” Anton duduk kembali di sebelahku.
Aku tak tahu harus mulai darimana. Aku bingung, kenapa Anton mengajakku, bukannya Anita.
“Ranti, ada apa? Kamu ada acara lain?” Tanya Anton sambil menatap dalam-dalam ke mataku. Oh, jangan melihatku seperti ini. Aku bisa kehilangan kata-kata.
“Ton, Anita enggak marah, kamu ngajak aku pergi?” Akhirnya keluar juga pertanyaan ini.
Anton tersenyum. “Kenapa kamu nanya gitu?”
“Selama ini, aku lihat kamu dekat sama dia. Kalian jadian?” Tanyaku lagi memberanikan diri.
Anton menghela nafas sebelum menjawab. “Menurutmu aku jadian sama Anita?”
“Semua teman-teman juga bilang begitu.”
“Ranti, Ranti. Aku cuma mendekatinya supaya dia mau bantu aku bikinin pe er. Kalau dia salah mengerti ya bukan salahku dong.”
Aku terkejut dengan jawaban Anton.
“Tapi…”
“Sedari dulu sebetulnya aku suka kamu, Ranti, tapi kupikir aku belum berani bilang apa-apa sama kamu. Sekarang kamu sudah tahu
Pintu perpustakaan tiba-tiba terbuka. Anita melangkah masuk. Matanya tertumbuk pada Anton, lalu ketangannya yang sedang menggenggam tanganku. Anita berhenti melangkah, membetulkan letak kacamatanya. Kelihatannya ia tak percaya apa yang dilihatnya di depan mata.
Anton berdiri, berjalan keluar ruang perpustakaan. Saat melewati Anita, ia hanya menyapa, “Hai Nit!” seakan-akan tidak ada apa-apa.
Aku melihat Anita yang seperti terhipnotis. Diam, tak bergerak dan bicara.
Seharusnya aku merasa menang.
Seharusnya aku menertawainya.
Seharusnya Anita menangis dan berlari keluar.
Sedetik kemudian, yang kurasakan justru berbeda. Anita tetap melangkah masuk. Lalu duduk di hadapanku. Tampak ia berusaha tegar seakan tidak ada apa-apa. Justru aku yang merasa tidak tenang. Terpikir ucapan Anton tadi. Ia cuma memanfaatkan Anita saja. Dan tentunya Anita mendengar kata-kata Anton tadi.
Aku menghampirinya, duduk di sebelah dia. “Nit…” Sapaku perlahan. “Tadi Anton…”
“Ya, aku dengar semuanay Ran.” Anita memejamkan matanya. Di bali kacamata minusnya, di sudut matanya mengalir setitik air mata.
“Aku juga tidak senang apa yang Anton bilang tadi.” Kataku.
Anita menatapku seakan tak percaya.
“Ya Nit. Aku juga enggak bisa nerima omongannya. Dipikirnya kita cewek yang bisa didekati lalu ditinggal seenaknya.”
Anita mengangguk, menghapus air matanya. Aku merangkul bahunya.
“Kita balas dia ya Nit!”
##########
Pukul
“Hai Ranti, udah siap?” Sapa sang idola itu, saat aku membuka pintu.
“Mmm… gimana ya Ton, mendadak aku ada tamu penting nih.”
Anton melihat ke dalam ruang tamu dari balik pundakku. Matanya tertumbuk pada seorang cowok yang sedang duduk santai. Cowok itu lalu melangkah ke sampingku.
“Hai, kamu pasti Anton. Kenalkan Aku Hartono.” Cowok itu mengulurkan tangan.
Anton membalas menyalaminya. Mukanya menunjukkan ia bingung.
“Ini Hartono, Ton, cowokku baru datang dari
Anton membuka topi petnya, menggaruk kepalanya. “Boleh aja sih Ran…” Jawabnya tak bersemangat.
“Oke, kita ketemu di
Anton tak punya pilihan. Maka ia segera menunggangi motornya kembali dan berlalu.
Aku menyusulnya bersama Hartono.
Tiba di Bentara Budaya, Anton yang tiba lebih dahulu sudah duduk di salah satu meja. Wajahnya benar-benar tak bersemangat. Kami lalu duduk bersama. Sepanjang acara, hanya aku dan Hartono yang berbincang saja. Kadang saat aku menanyakan sesuatu pada Anton, ia hanya menjawab sekenanya. Menjelang acara berakhir tiba-tiba Anita muncul.
“Sori Ranti, aku telat. Soalnya tadi kena macet.” Ujar Anita. Anton terbelalak. “Geser sedikit Ton.” Ucapnya sambil duduk bergabung dengan meja kami.
Anton sedikit bersemangat, tapi tak punya kesempatan bicara, karena Anita, Hartono dan aku sibuk ngobrol. Akhirnya ia hanya duduk bersandar di kursinya, kehilangan minat sama sekali pada acara ini.
Ketika acara usai, kami bertiga berpamitan pada Anton. “Makasih ya Ton, udah ngajakin kita ke acara ini. Kita jalan dulu ya.” Ucapku padanya sambil berjalan ke mobil Hartono. Anton hanya mengangguk lesu. Ketika masuk ke mobil, semuanya tertawa.
“Kamu lihat mukanya tadi Nit? Berusaha mau ngajak kamu ngobrol.”
“Iya, tapi lebih asyik obrolan kita ya…” Jawab Anita seru, “Tapi tadi waktu jemput kamu, dia benar-benar kaget dong?”
“Tentu saja. Tapi ini terakhir aku pura-pura jadi pacar Ranti ah. Nanti aku enggak laku!” Sahut Hartono sambil tertawa. Sebetulnya, Hartono adalah sepupuku yang kuliah di
Kami menurunkan Anita di rumahnya, lalu langsung pulang. Setibanya di rumah, tak lupa aku berterima kasih pada Hartono.
“Makasih ya Har. Kamu baik deh.” Aku menepuk punggungnya.
“Sama-sama Ran. Eh, tapi jadi
“Huuu… jadi nolongin ada imbalannya nih?”
“Bukan imbalan sih. Tapi enggak ada salahnya
“Iyalah. Tapi kamu enggak playboy kayak Anton
Hartono mengangkat jari telunjuk dan tengahnya, membentu hurf V, “Pasti Ran.”
Kami tertawa bersama. Dina dan Yeni mesti kuberitahu kejadian seru hari ini.
*** by Chr: 1986 ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar