Jumat, 20 Februari 2009

Sial...

Bulan ini rasanya adalah bulan paling sial dalam hidupku. Bayangkan saja, setiap minggu selalu ada saja kejadian yang menyebalkan. Dan yang paling menyebalkan, semuanya gara-gara kelalaianku sendiri. Jadi, tidak ada tempat untuk menumpahkan kekesalan, tidak ada yang jadi kambing hitam untuk kujadikan sasaran kesebalanku.

Kejadian pertama di awal bulan, aku kehilangan buku catatan Biologi. Gila, padahal ini sudah menjelang akhir tahun ajaran, dan siapapun tahu kalau catatan Biologi itu yang paling banyak tulisan dan gambarnya, sebab Pak Artono, guru Biologi kelasku, memang paling rajin memberi catatan, bahkan lebih lengkap dari buku wajib. Setelah membongkar seluruh isi lemari buku, bahkan hampir membongkar seluruh isi kamar, aku tetap tidak berhasil menemukannya. Tidak ada jalan lain, selain mencatat ulang lagi. Jadi, selama satu bulan, kegiatan sore hariku tidak lain adalah menulis dan menggambar saja.

Kejadian kedua adalah ketika ikut acara kemping kelompok pecinta alam. Acaranya memang seru, kami sempat berjalan menyusuri sungai diantara tebing-tebing untuk menuju ke air terjun. Walaupun berat, tapi setiba di sana, pemandangannya sungguh menawan. Semuanya mendadak menjadi foto model, menjepret sana dan sini sampai kehabisan film, meskipun dalam keadaan berbasah-basah. Pulang kembali ke perkemahan, baru kusadari, aku ketinggalan celana cadangan. Mencoba mencari di antara berbagai barang dalam ransel, tetap tak kutemukan. Meminjam jelas tak mungkin. Alhasil, sepanjang sore sampai esok paginya, aku terpaksa berbasah-basah terus. Rasanya, jangan ditanya, selain dingin juga tak nyaman. Apalagi, setiap berbapasan dengan orang, selalu ditanya,”Koq enggak ganti celana basahnya?” Sebal…

Kupikir cukup sudah dua kejadian yang kuanggap sial itu. Tapi gara-gara Yani, adikku, terjadi juga kesialanku yang ketiga. Ceritanya begini, setiap hari, sisa uang saku yang receh selalu kutinggalkan begitu saja di meja belajar. Namun belakangan ini, uang receh itu sering hilang. Padahal kalau dikumpul-kumpulkan, jumlahnya lumayan. Selidik punya selidik, ternyata Yanilah yang suka mengambilnya. Tanpa merasa bersalah lagi. Alasannya, ia lagi hobi-hobinya makan coklat, tapi uang jajannya tak cukup. Maka ketika dilihatnya ada uang receh tergeletak di mejaku, dianggapnya sudah tidak kuperlukan lagi. Setiap tiga hari sesudah terkumpul cukup, dibelinya Van Houten rasa kacang almon kesukaannya.

Untuk mencegah kehilangan lagi, akhirnya aku membeli sebuah celengan yang terbuat dari bahan plastik keras. Bentuknya seperti tong kecil dengan tulisan ‘Anti Pecah’. Aman, kupikir, karena selain lubang untuk memasukkan uang, tidak ada pintu keluar lainnya. Maka tiap hari kusimpan uang receh sisa uang sakuku ke dalam celengan itu. Rencanaku setelah penuh, akan kugunakan untuk membeli tas ransel Eiger impianku. Maka, minggu kemarin, ketika kurasa sudah cukup penuh, aku berencana memecahnya. Memecahnya? Lho bukannya ini anti pecah? Dan tidak ada lubang lainnya, selain celah kecil di atas untuk memasukkan uang. Setelah mencoba membanting dengan berbagai cara, bahkan sampai kujatuhkan dari lantai dua, aku menyerah. Pabrik celengan ini benar-benar menjaga mutunya. Celengan anti pecah ini benar-benar tidak dapat dipecahkan. Sekarang, benda itu masih kuletakkan di rak atas meja belajarku, dan terpaksa kurelakan sisa uang sakuku untuk jajan Yani.

Minggu terakhir, aku rasa sudah terbebas dari tiga kejadian sial itu. Ternyata masih ada lagi. Minggu sore hari, aku tidak kemana-mana. Rencananya, aku ingin menulis surat untuk Adinda tersayang yang ada di seberang sana. Terinspirasi lagu Obbie Mesakh, maka kuambil selembar kertas buku tulis, dan mulai menjalin kata, mengucap hati rindu. Tiba-tiba Yani muncul tanpa mengetuk pintu kamarku. Katanya kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang. Ia minta dibuatkan surat izin untuk tidak masuk hari Senin besok. “Iya, nanti kubuatkan. Aku mau nyelesaikan surat untuk pacar dulu nih!” Kataku kepadanya. Yani berlalu sambil mencibir, “Huh, sok sibuk. Eh, tapi jangan lupa sekalian di kasih ke guru piket besok ya!” Pintanya.

Hari Selasa, sepulang sekolah, Yani ngomel-ngomel. “Gimana sih Kak, suratnya ngaco nih. Aku dimarahi guru piket tadi! Nih, suratnya dibalikin” Ujarnya sambil uring-uringan. Aku terkejut. Waduh! Jangan-jangan surat cintaku salah kasih ke sekolah. Buru-buru kubuka amplop yang di sodorkan Yani. Aku bernafas lega, setelah tahu isinya kertas kosong. Berarti aku salah memasukkan surat. Segera aku memeriksa meja belajarku dan menemukan amplop untuk pacarku yang belum dikirim. Kubuka isinya dan ternyata surat izin Yani ada di dalamnya. Jadi, kemana surat cintaku itu? Aku melihat rak di samping meja yang biasanya berisi tumpukan kertas, koran dan majalah. Biasanya, aku suka sembarang meletakkan kertas-kertas di sana. Tempat itu sekarang bersih. Pasti sudah dibereskan Mbok Yem. Segera aku memburu ke belakang mencari Mbok Yem.

“Mbok… tumpukan kertas-kertas di samping mejaku ada dimana?” Tanyaku tergesa-gesa.

“Oh… sudah tak kumpulkan dengan koran-koran bekas lain…” Jawabnya acuh tak acuh sambil beres-beres dapur.

“ Lalu…. disimpan dimana?”

“Lha kertas dan koran bekas ngapain disimpan? Ya sudah tak jual ke tukang loak.”

Aku terkesiap.

Suratku pasti terselip diantara koran dan kertas lainnya. Malunya aku kalau orang lain tahu isinya.

“Mbok… apa tukang loaknya masih buta huruf…..?”

*** by Didit K: 1985 ***

Sang Idola

Aku kesal setengh mati. Mataku tidak bisa mempercayai apa yang kulihat di tempat parkir saat bubaran sekolah. Anton, si Anton yang jagoan basket itu, yang jadi idola cewek-cewek seantero kelas satu dan dua, memboncengi Anita, si kutubuku yang sama sekali bukan siapa-siapa. Tapi ini kenyataan.

Dina, sahabatku yang setia, juga ikut mengumpat-umpat, “Hebat amat tuh si Anita, sampai bisa diboncengi Anton!”

“Udah ngerayu berbulan-bulan kali… akhirnya kena juga.” Tambah Yeni, sahabatku yang lainnya.

“Menurutku sih, jangan-jangan pakai guna-guna…” Ujarku sembarangan.

“Tapi, kan bukan berarti mereka jadian kan.” Timpal Dina, masih berharap.

Kami bertiga saling berpandangan, di depan pintu perpustakaan yang dekat lapangan parkir itu. Biasanya kami memang saling bersaing dalam kompetisi untuk mencari perhatian Anton. Tapi kali ini, karena ada musuh baru, tiba-tiba kami merasa senasib. Persahabatan rasanya jadi semakin kuat.

Sebetulnya, selama ini, kami sering berusaha menunjukkan perhatian kami ke Anton. Setiap pertandingan bola basket, dimana Anton menjadi bintangnya, kami selalu hadir dan paling bersemangat memberikan dukungan. Antonpun tampaknya menyadari bahwa kami fans beratnya. Maka setiap ia berhasil mencetak angka, ia selalu berlari ke arah kami, memberikan tos sambil tersenyum, membuat kami yang duduk di bangku terdepan seakan meleleh.

Tapi hari ini aku kesal sekali. Pada Anita, juga pada Anton. Tidakkah ia menyadari bahwa Anita itu seorang anak kuper, yang lebih banyak malu-malunya dibanding bergaul dengan teman-teman lain. Walaupun harus diakui, ia anak paling pandai dalam kelas. Mungkin itu sebabnya, Anton tertarik padanya, sebab rasanya tak mungkin kalau Anita yang berinisiatif mendekatinya duluan, aku beranalisa. Dina dan Yeni juga tampak diam, barangkali mereka berdua juga sedang sibuk beranalisa. Makin dipikir makin kesal rasanya.

##########

Saat istirahat siang, di kantin sekolah, suasana tempat kami berkumpul untuk bergosip jadi penuh bisik-bisik. Topik pembicaraan hangat sambil menghirup teh botol, apalagi kalau bukan, Anton dan Anita, AA!

“Tuh, lihat Din, sekarang Anita sudah berani dandan tuh!” Yeni memulai.

“Iya, jadi menor kayak gitu, ih!” Timpal Dina.

“Gayanya, uh… kecentilan banget sih!”

Berjarak dua meja dari kami, Anita duduk sendirian sambil menikmati mie basonya. Yang tidak biasa adalah, ia mengenakan anting-anting panjang. Sejujurnya, ia jadi tampak lebih manis. Tapi bagi kami saat ini, ia tampak bagaikan seorang nenek sihir!

Selang tak lama, Anton tampak berjalan masuk ke kantin. Serentak kami bertiga memasang wajah paling manis. Ketika Anton melalui meja kami, dengan kompak kami menyapa, “Hai Anton….” Bagaikan koor.

Anton tersenyum ramah, mengangkat tangan kanannya dan berjalan terus. Lalu duduk di meja Anita, berhadapan dengannya dan membelakangi kami. Aku, Dina dan Yeni ternganga. Mereka berdua berbincang dengan asyik, sesekali Anita tertawa tersipu. Oh, sungguh pemandangan yang menyakitkan.

“Kayaknya kita makin kalah set nih.” Akhirnya Yeni membuka suara.

Aku dan Dina seakan tercekat, tak mampu berkata apa-apa. Anton lebih tertarik pada Anita daripada kami bertiga.

“Yuk, mendingan bubar…” Ajakku akhirnya.

Kami bertiga berjalan melalui meja mereka. Saat Anita melihat ke kami, aku memberi pandangan sinis. Biarin, biar ia tahu aku kesal, meskipun mungkin ia tidak tahu sebabnya. Dina dan Yeni pun melakukan hal yang sama. Kami berjalan kembali ke kelas dengan masih sambil menggosipkan mereka berdua.

##########

“Halo Ran!”

Aku memandang ke arah asal suara dan terkejut. Anton!

Ia mengambil tempat duduk di sebelahku, di meja baca perpustakaan. Aku salah tingkah dan berusaha tersenyum ramah kepadanya.

“Tumben, jagoan basket mampir ke perpustakaan…” Aku mencoba menetralisir perasaan dag dig dugku.

“Iya, nyari kamu.” Jawabnya. Senyumnya yang menawan terus dikembangkannya.

Mencari aku? Ah, pangeran, kenapa baru sekarang?

Ada apa Ton?” Tanyaku sambil pura-pura meneruskan baca novel yang kupegang sejak tadi.

“Kangen…”

Apa aku tidak salah dengar?

“Apa Ton?” Tanyaku lagi.

“Kangen sama kamu.” Anton mengulang jawabanya.

Aku terpana. Mata Anton menatap lurus kemataku. Sejujurnya, meski aku naksir dia, tapi kalau berhadapan langsung seperti ini, aku benar-benar salting. Apalagi ia bilang kangen.

Tangan Anton menggenggam tanganku, sambil berkata “Mau sekalian nanya… Sabtu sore besok ada acara?”

Ada apa ini, mengapa mendadak seperti ini? Tapi hatiku tak sempat mempertayakan lebih jauh. Naluriku langsung memaksaku untuk menjawab, “Enggak. Emang kenapa Ton?”

“Aku mau ngajak kamu ke acara khusus.”

“Acara apa?”

“Di Bentara Budaya ada acara baca puisi. Seru lho, ada Ben Alkhairy.”

Bagaimana Anton bisa tahu aku suka acara baca puisi. Apalagi sampai tahu seniman favoritku, Ben Alkhairy.

“Boleh Ton. Aku suka.” Jawabku dengan mata berbinar.

“Kalau begitu, aku jemput jam lima sore ya.”

Aku mengangguk dan terdiam. Diam, karena tidak tahu mau omong apa.

“Ya udah Ran, aku mau balik dulu.”

“Eh, sebentar Ton.” Aku menggamit tangannya, menghentikan langkahnya.

“Kenapa?” Anton duduk kembali di sebelahku.

Aku tak tahu harus mulai darimana. Aku bingung, kenapa Anton mengajakku, bukannya Anita.

“Ranti, ada apa? Kamu ada acara lain?” Tanya Anton sambil menatap dalam-dalam ke mataku. Oh, jangan melihatku seperti ini. Aku bisa kehilangan kata-kata.

“Ton, Anita enggak marah, kamu ngajak aku pergi?” Akhirnya keluar juga pertanyaan ini.

Anton tersenyum. “Kenapa kamu nanya gitu?”

“Selama ini, aku lihat kamu dekat sama dia. Kalian jadian?” Tanyaku lagi memberanikan diri.

Anton menghela nafas sebelum menjawab. “Menurutmu aku jadian sama Anita?”

“Semua teman-teman juga bilang begitu.”

“Ranti, Ranti. Aku cuma mendekatinya supaya dia mau bantu aku bikinin pe er. Kalau dia salah mengerti ya bukan salahku dong.”

Aku terkejut dengan jawaban Anton.

“Tapi…”

“Sedari dulu sebetulnya aku suka kamu, Ranti, tapi kupikir aku belum berani bilang apa-apa sama kamu. Sekarang kamu sudah tahu kan…”

Pintu perpustakaan tiba-tiba terbuka. Anita melangkah masuk. Matanya tertumbuk pada Anton, lalu ketangannya yang sedang menggenggam tanganku. Anita berhenti melangkah, membetulkan letak kacamatanya. Kelihatannya ia tak percaya apa yang dilihatnya di depan mata.

Anton berdiri, berjalan keluar ruang perpustakaan. Saat melewati Anita, ia hanya menyapa, “Hai Nit!” seakan-akan tidak ada apa-apa.

Aku melihat Anita yang seperti terhipnotis. Diam, tak bergerak dan bicara.

Seharusnya aku merasa menang.

Seharusnya aku menertawainya.

Seharusnya Anita menangis dan berlari keluar.

Sedetik kemudian, yang kurasakan justru berbeda. Anita tetap melangkah masuk. Lalu duduk di hadapanku. Tampak ia berusaha tegar seakan tidak ada apa-apa. Justru aku yang merasa tidak tenang. Terpikir ucapan Anton tadi. Ia cuma memanfaatkan Anita saja. Dan tentunya Anita mendengar kata-kata Anton tadi.

Aku menghampirinya, duduk di sebelah dia. “Nit…” Sapaku perlahan. “Tadi Anton…”

“Ya, aku dengar semuanay Ran.” Anita memejamkan matanya. Di bali kacamata minusnya, di sudut matanya mengalir setitik air mata.

“Aku juga tidak senang apa yang Anton bilang tadi.” Kataku.

Anita menatapku seakan tak percaya.

“Ya Nit. Aku juga enggak bisa nerima omongannya. Dipikirnya kita cewek yang bisa didekati lalu ditinggal seenaknya.”

Anita mengangguk, menghapus air matanya. Aku merangkul bahunya.

“Kita balas dia ya Nit!”

##########

Pukul lima sore lewat sedikit. Aku mendengar deru motor di depan rumahku. Tak lama, bel pintu berbunyi.

“Hai Ranti, udah siap?” Sapa sang idola itu, saat aku membuka pintu.

“Mmm… gimana ya Ton, mendadak aku ada tamu penting nih.”

Anton melihat ke dalam ruang tamu dari balik pundakku. Matanya tertumbuk pada seorang cowok yang sedang duduk santai. Cowok itu lalu melangkah ke sampingku.

“Hai, kamu pasti Anton. Kenalkan Aku Hartono.” Cowok itu mengulurkan tangan.

Anton membalas menyalaminya. Mukanya menunjukkan ia bingung.

“Ini Hartono, Ton, cowokku baru datang dari Bandung. Ia mau ikutan nonton pembacaan puisi juga. Boleh ya Ton.”

Anton membuka topi petnya, menggaruk kepalanya. “Boleh aja sih Ran…” Jawabnya tak bersemangat.

“Oke, kita ketemu di sana ya. Aku naik mobilnya Hartono.” Kataku lagi.

Anton tak punya pilihan. Maka ia segera menunggangi motornya kembali dan berlalu.

Aku menyusulnya bersama Hartono.

Tiba di Bentara Budaya, Anton yang tiba lebih dahulu sudah duduk di salah satu meja. Wajahnya benar-benar tak bersemangat. Kami lalu duduk bersama. Sepanjang acara, hanya aku dan Hartono yang berbincang saja. Kadang saat aku menanyakan sesuatu pada Anton, ia hanya menjawab sekenanya. Menjelang acara berakhir tiba-tiba Anita muncul.

“Sori Ranti, aku telat. Soalnya tadi kena macet.” Ujar Anita. Anton terbelalak. “Geser sedikit Ton.” Ucapnya sambil duduk bergabung dengan meja kami.

Anton sedikit bersemangat, tapi tak punya kesempatan bicara, karena Anita, Hartono dan aku sibuk ngobrol. Akhirnya ia hanya duduk bersandar di kursinya, kehilangan minat sama sekali pada acara ini.

Ketika acara usai, kami bertiga berpamitan pada Anton. “Makasih ya Ton, udah ngajakin kita ke acara ini. Kita jalan dulu ya.” Ucapku padanya sambil berjalan ke mobil Hartono. Anton hanya mengangguk lesu. Ketika masuk ke mobil, semuanya tertawa.

“Kamu lihat mukanya tadi Nit? Berusaha mau ngajak kamu ngobrol.”

“Iya, tapi lebih asyik obrolan kita ya…” Jawab Anita seru, “Tapi tadi waktu jemput kamu, dia benar-benar kaget dong?”

“Tentu saja. Tapi ini terakhir aku pura-pura jadi pacar Ranti ah. Nanti aku enggak laku!” Sahut Hartono sambil tertawa. Sebetulnya, Hartono adalah sepupuku yang kuliah di Bandung. Aku meminta bantuannya untuk mengerjai Anton.

Kami menurunkan Anita di rumahnya, lalu langsung pulang. Setibanya di rumah, tak lupa aku berterima kasih pada Hartono.

“Makasih ya Har. Kamu baik deh.” Aku menepuk punggungnya.

“Sama-sama Ran. Eh, tapi jadi kan kamu nyomblangin aku ke Anita?” Sahutnya bersemangat.

“Huuu… jadi nolongin ada imbalannya nih?”

“Bukan imbalan sih. Tapi enggak ada salahnya kan.”

“Iyalah. Tapi kamu enggak playboy kayak Anton kan?”

Hartono mengangkat jari telunjuk dan tengahnya, membentu hurf V, “Pasti Ran.”

Kami tertawa bersama. Dina dan Yeni mesti kuberitahu kejadian seru hari ini.

*** by Chr: 1986 ***

Selasa, 17 Februari 2009

Bola Voli

Siang itu tidak terlalu panas, sehingga aku memutuskan untuk pulang jalan kaki saja. Biasanya sih untung-untungan, kali-kali saja dapat tebengan, kalau mau berajin-rajin menunggu di depan pintu parkir motor. Dengan memasang wajah memelas, kadang-kadang Firdaus rela menyediakan boncengan. Tapi itupun dengan catatan kalau dia lagi enggak ada kecengan.

Maka, dengan menyampirkan tas selempang yang rada kepanjangan, aku melangkahkan kaki melalui pintu halaman belakang sekolah. Sehari-hari, yang pulang lewat pintu halaman belakang bisa dihitung dengan jari, karena jalanannya sempit dan sepi. Tetapi bagiku, melalui jalan itu justru memberi kesempatan untuk lewat di depan rumah Linda, cewek cakep penghuni kelas dua a satu. Linda biasanya juga lewat sini, maka aku sengaja sedikit berlama-lama untuk menunggunya muncul.

Benar, tak lama kemudian, muncullah sosok indah itu. Ah, langkahnya saja sudah membuat hati ini dag dig dug. Linda selalu khas dengan kuncir ekor kuda, tapi menyisakan sedikit rambut yang dikepang kecil di dahinya. Tangan kanannya menggenggam tali tas yang menyampir ke samping, sedangkan tangan kirinya memegang tas kantong kertas yang entah isinya apa. Berjalan agak tergesa tanpa menengok kanan dan kiri. Aku bersandar di pintu gerbang, pura-pura acuh tak acuh. Begitu Linda lewat, aku lantas pura-pura memutar badan hendak masuk lagi.

“Eh, Linda…” Sapaku pura-pura kaget.

“Eh, Edo…” Balasnya, lantas mengambil arah agak kesamping, untuk menghindari senggolan.

“Mau pulang?” Pertanyaan bodoh meluncur dari mulutku.

“Iya…, emang mau kemana lagi…” Jawabnya sambil tertawa, seakan menertawakan ketololan pertanyaanku.

Aku membalikkan badan, menyusul langkahnya.

“Lho, kamu mau kemana Do?” Tanyanya heran melihat aku mengikutinya.

“Pulang juga, mau jalan kaki, habisnya enggak ada tebengan.” Jawabku pura-pura acuh.

Maka akupun membarengi langkahnya. Linda juga tak keberatan, karena selama lima menit perjalanan menuju rumahnya, ia punya teman ngobrol. Selanjutnya selama lima belas menit aku harus melanjutkan perjalan pulang sendirian. Tetapi siang itu, ada sebuah kejutan, “Do, aku ikut tim voli lho sekarang, latihannya tiap Jumat.”

Voli? Itu permainan yang paling aku takutkan sepanjang karirku di SMA ini. Bukan, bukan karena takut kehajar bola, tetapi sejak trauma tangan kananku pernah patah tulang, aku jadi selalu khawatir saat hendak melakukan pukulan terhadap bola. Akibatnya, aku selalu menghindari olah raga ini dan lebih memilih atletik sebagai alternatif untuk ekstrakulikulerku. Tetapi, di siang hari yang tidak panas ini, Linda bilang dia main voli? Duh…

Setelah berpisah di belokan ke arah rumahnya, aku berjalan pulang sambil merenungkan percakapan tadi. Kalau Linda main voli, tentu yang diuntungkan adalah para cowok yang juga ikutan tim voli, karena latihannya bareng. Apalagi semua tahu, cewek kece satu ini kalau sudah bertekad melakukan satu hal, apapun tidak akan menjadi halangannya. Nah, ketakutanku, kalau Linda nanti begitu bersemangat untuk sering-sering latihan voli, maka persaingan untuk bisa pendekatan denganya akan semakin ketat. Kalau sudah begitu, kans ku pun pasti akan semakin kecil, soalnya, seperti yang kukatakan tadi, bola voli adalah sesuatu yang sangat menakutkan bagiku.

Tetapi, pikirku, kalau membiarkan diri untuk kalah begitu saja dalam persaingan, rasanya aku tak rela. Apalagi aku tahu di sana ada Agus, Dodi dan Farid yang juga sesama fansnya Linda dan mereka adalah jago-jagonya voli.

**********

“Ayo Do, tangan kanan kamu diayun kayak gini…” Seru Iwan bersemangat.

Aku sudah mulai ngos-ngosan, karena berkali-kali gagal melakukan servis hanya untuk melewati net. Beberapa hari ini, memang aku menggiatkan latihan voli, dan Iwan berbaik hati untuk menjadi pelatihku, meskipun ia tidak jago-jago amat. Kami latihan di lapangan samping pos hansip yang selalu sepi. Aku memang bertekad untuk bisa main voli, tetapi aku tidak ingin dilihat orang saat latihan. Ya malulah kalau ketahuan mau servis saja tidak bisa.

Kembali pukulanku hanya mampu membuat net bergoyang saja, bolanya tidak lewat ke seberang. Untung punya pelatih seperti Iwan yang tetap bersemangat memaksaku untuk mencoba terus. Maklumlah, Iwan sebenarnya punya potensi untuk menjadi pemain inti sekolah, sayang matanya minus terlalu dalam sehingga tidak memungkinkannya untuk berada di lapangan. Akhirnya, ia cuma bisa menjadi pelatih amatir seperti yang sekarang dilakoninya.

“Udah dulu deh Do, istirahat dulu.” Ajak Iwan, yang tampak mulai lelah juga.

Kami duduk di pinggir lapangan, sambil meneguk teh botol.

“Kenapa sih kamu ngotot mau coba main voli?” Tanya Iwan penasaran.

Aku memandang wajah Iwan yang penuh rasa ingin tahu. Aku tidak terlalu yakin Iwan bisa jadi teman berbagi cerita yang aman. Maka aku mencari alasan lain.

“Soalnya aku bosan jadi sprinter Wan.”

“Lha, emangnya ada kemungkinan tim voli mau menarikmu?”

“Ya setidaknya jadi pemain cadangan Wan, daripada lari-larian terus.”

Iwan menggelengkan kepala, tanda setengah bingung.

Sebenarnya, di atletik, Pak Jamal, guru olahraga kami, sangat mengandalkanku di nomor lari sprint 100 meter, karena aku satu-satunya pelari di sekolah kami yang pernah menang dalam kejuaraan wilayah. Tapi, untuk voli, ini soal hati.

“Ayo Wan, latihan lagi, targetku satu bulan ini setidaknya sudah bisa main.” Aku berjalan ke lapangan lagi, diikuti pelatih setiaku, Iwan Kurniawan Gunawan.

**********

Aku berjalan memasuki ruang olahraga yang sudah ramai. Setelah sebulan berlatih penuh, setidaknya aku sudah bisa servis dan memukul balik bola ke seberang net. Dan hari ini aku sudah resmi masuk tim voli, meski hanya duduk di bangku cadangan. Itupun aku harus melobi Agus, sang kapten tim.

“Aku bingung padamu Do. Kamu kan udah jago di lari, ngapain mau ikutan voli?” Ujar Agus saat kuutarakan keinginanku masuk timnya.

“Bosan Gus. Kalau di stadion atletik enggak ada yang nonton, kalau voli kan rame.” Jawabku beralasan.

“Nanti aku dimarahi Pak Jamal, dikira aku yang mengajakmu.”

“Tenang, nanti aku yang jelaskan ke Pak Jamal.”

Iwan juga bersemangat menyeponsoriku ikut tim voli, karena ia tidak mau melatihku sia-sia. “Iya Gus, kasih kesempatan si Edo. Dia udah usaha latihan terus lho.”

“Oke, tapi sementara di cadangan dulu ya Do. Soalnya sebentar lagi akan ada pertandingan antar sekolah, kita lagi serius di situ.” Akhirnya Agus menyerah.

Maka sampailah hari pertandingan ini. Aku sudah mengenakan kaos tim warna putih yang bertuliskan namaku, dan duduk bersama-sama dengan pemain lainnya di tepi lapangan. Agus sibuk memberi wejangan, tetapi aku tidak begitu memperhatikannya. Sebab, di lapangan sebelah, pertandingan tim putri sedang berlangsung. Dan Linda sedang akan melakukan pukulan servis. Linda sekarang di tim inti voli putri, dan kelihatannya ia termasuk salah satu pemain yang diandalkan. Rasanya, tidak hanya kedua mataku saja yang terpaku padanya, hampir seluruh mata memandangnya, sehingga seakan seluruh ruang olahraga terdiam menunggunya melakukan pukulah servis.

Dengan tenang, ia memantul-mantulkan bola putih itu. Mulutnya bergerak-gerak tipis mengunyah permen karet. Sebuah kepang kecil panjang berpita yang diikat dekat keningnya bergoyang-goyang. Itu ciri khas Linda. Tangan kirinya sekarang mengangkat bola, pandangannya lurus ke arah lapangan lawan. Sekejap, bolanya sudah terlontar ke seberang, melumpuhkan pukulan balasan lawan. Sorakan menggema. Bola kembali di tangannya. Memang, Linda tampak piawai, sosoknya yang semampai sangat mendukungnya menjadi pemain yang hebat. Ia memang sang primadona lapangan voli hari ini.

Aku tidak lagi memperhatikan permainan di lapangan pertandingan voli putra yang sudah dimulai. Mataku terpaku pada sosok Linda di lapangan sebelah. Sampai pertandingan tim putri selesai, dan sekarang penonton barulah lebih tertarik melihat pertandingan putra. Aku tetap duduk di bangku cadangan, dan tidak perduli apakah akan ikut turun bermain atau tidak. Di posisi belakang kotak servis, tampak Linda duduk di sana dengan beberapa pemain putri. Aku terseyum, saat ia tak sengaja melihat ke arahku. Ia melambai, agaknya ia terperangah melihat aku ikutan duduk di bangku cadangan dengan kaos pemain.

Selang beberapa saat, set pertama usai. Agus mendekatiku, “Do, kamu turun yah. Kaki Dodi agak terkilir, enggak sanggup main lagi.” Aku terkesiap, “Serius Gus, aku turun?”

“Iya, siapa lagi?” Agus memandang galak padaku. Aku melihat ke samping, tidak ada pemain cadangan lagi, karena dua orang selain aku, Dian dan Tommy sudah ada di lapangan menggantikan tim inti. Ini strategi Agus, karena set pertama kami sudah menang, sehingga jika ada set ketiga, maka tim inti sudah pulih tenaganya untuk bertanding habis-habisan.

Aku berjalan menuju posisiku dengan canggung. Rasanya semua mata memandangku. Aku lebih merasa grogi lagi, setelah melihat Dian dan Tommy melakukan gerak-gerak pemanasan dengan meyakinkan. Sepertinya mereka lebih siap, meskipun sama-sama pemain cadangan. Tidak lama, pluit wasit sudah ditiupkan, dan set kedua benar-benar dimulai!

Mataku berusaha mengikuti arah bola, yang diterima Adi, melambung ke Tommy, lalu Alam melompat dan smash pertama berhasil masuk. Semua bertepuk. Aku menghela nafas. Belum ada bola yang mampir ketanganku. Aku melirik ke arah belakang, kulihat Linda memperhatikan dengan serius, entah pada siapa.

“Ayo Do!” Tiba-tiba kudengar seruan, aku berpaling dan bola putih itu melayang ke arahku. Setengah refleks, kulakukan pukulan menyamping dan bola melambung ke arah Dian. Berhasil, aku mulai bisa mengendalikan bola. Namun kali ini lawan berhasil menghentikan kami, maka servispun berpindah. Kali ini, Doni, kapten tim lawan yang bertubuh bak binaragawan yang melakukan servis. Aku terkesiap, ketika ternyata bola mengarah ke posisiku. Oh, tapi tidak, kelihatannya ke arah Sugianto. Aku melirik, Sugi tampak bergerak ragu ke arah bola datang. Tak berlangsung lama, kegugupanku menyebabkan bola jatuh ke tempat kosong. Sugi tampak kesal, “Harusnya kamu ambil Do!” Serunya padaku. Aku hanya bisa mengangkat bahu.

Servis kedua dari Doni. Tampaknya ia tahu, titik lemah tim ada di posisiku. Maka bola kembali melayang ke arahku. Posisi jatuh bola agak tinggi, sehingga aku bingung, apakah akan melakukan passing bawah atau atas atau… Sejenak aku terdiam saat bola itu tahu-tahu sudah jatuh di atas kepalaku. Tapi, benturan di kepalaku terasa lebih keras, seperti bukan kena bola. Pandanganku kabur dan aku langsung tak sadarkan diri.

**********

Aku membuka mataku perlahan-lahan. Memandang sekeliling, hanya ada Agus dan Sugianto di ruang UKS ini.

“Wah, untung sudah sadar. Masih pusing Do?” Tanya Agus.

“Sedikit, emang kepalaku kena apa Gus?” Tanyaku heran, sebab tak mungkin kena bola bisa pingsan.

“Kena sikut Sugi.” Kata Agus sambil tertawa, “Dia takut bolanya lepas lagi, makanya saat dia mengayunkan tangan, tahu-tahu kepalamu dan bolanya jatuh ditempat yang sama. Dia enggak bisa ngerem lagi, jadi yang kena hajar kepalamu, bukan bola. Tahu sendiri tangan Sugi, tangan atlet.”

“Iya Do, sori yah….” Ujar Sugi dengan wajah agak khawatir.

“Sama-sama Gi, kayaknya yang bikin masalah aku, bukan kamu.” Jawabku.

“Oke Do, kamu istirahat aja. Kita mau balik ke lapangan. Pertandingan masih berlanjut.” Kata Agus sambil buru-buru berlalu bersama Sugi, sebelum sempat aku menjawab.

Aku merenung sendirian di atas kasur lipat ini. Tampaknya usahaku untuk mencari perhatian Linda gagal total. Memang dasarnya bukan pemain voli, tapi sok tahu sih kamu Do!

**********

Aku mengikat tali sepatuku dan melakukan perenggangan. Seperti biasa, di lapangan atletik cuma ada aku dan Pak Jamal yang selalu memegang stopwatch.

“Oke Do, siap-siap ya. Hampir dua bulan kamu enggak latihan!” Serunya.

Aku mengangguk.

Mengambil posisi start di belakang garis.

Sempritan Pak Jamal menggema.

Aku melesat.

Pandanganku hanya satu.

Garis itu.

Garis finis.

Berputar balik, Pak Jamal melihat ke arah stopwatch-nya, “Lumayan untuk orang yang sudah dua bulan menghilang.” Ujarnya dari balik kaca mata hitam dan topi pet khasnya. Siang itu kuhabiskan untuk melatih kembali otot kakiku, bersama Pak Jamal. Ketika sore sudah mulai membayang, latihanpun usai. Pak Jamal sudah pulang dengan motor tuanya. Aku duduk sendirian di tepi lapangan, menunggu keringat kering.

Edo…”

Aku berpaling ke arah asal suara yang memanggil. Aku tertegun, Linda sedang berjalan ke arahku. Masih pakai kaos seragam tim Voli. Hari ini hari Jumat, hari latihan dia.

“Balik ke atletik lagi?”

Aku tersenyum pahit, lalu menunduk.

“Kenapa Do…?” Tanyanya lagi.

Aku rasa tak perlu menjelaskan bahwa memang aku tidak bisa main voli. Bahwa memang aku cuma bisa lari.

“Sebenarnya, aku kagum sama kamu. Kamu satu-satunya atlet andalan sekolah kita.”

Aku mengangkat kepalaku, melihat kearah Linda.

“Betul Do, di voli dan basket kita bukan apa-apa.”

Aku masih terpana.

“Lihat, kamu sendirian bisa mengharumkan nama sekolah. Kami rame-rame, malah enggak pernah menang sekalipun.”

Aku tetap terpana. Kepang kecilnya yang bergoyang-goyang membuatku seperti terhipnotis.

“Jadi buat apa ikutan main voli?”

Aku tak ingin menjawab. Toh Linda juga tidak menunggu jawabanku. Aku berdiri, menatap lurus ke mata Linda.

“Kenapa? Mau nraktir aku es campur?” Tanyanya sambil tertawa kecil.

Aku menarik lengannya, mengangguk.

Linda menggenggam tanganku.

Sore sudah tidak terik lagi.

Dan kami tertawa-tawa di warung es campur di depan stadion.

### by: Dytra, 1985 ###

Jumat, 13 Februari 2009

Joyce dan Sepeda Jengki

Siang ini aku duduk di dalam kelas saja, tidak ikut keluar istirahat. Ulangan Kimia terakhir aku dapat skor telak: 3! Sebetulnya membaik, karena naik dari nilai 2 sebelumnya, tetapi tetap saja di bawah rata-rata. Tetapi apa mau dikata, kelihatannya aku memang tidak berbakat di pelajaran Kimia, sejak masuk di kelas 1A4 ini sampai sudah hampir semesteran, aku masih belum bisa mendapat nilai pas 6. Maka siang ini, aku memutuskan untuk membuka-buka buku Kimia Peperzak, mencoba mengerjakan satu dua soal. Setidaknya nanti kalau Pak Kris bertanya, aku bisa jawab sedikit-sedikit.

Aku mencoba satu soal tentang hukum Pascal. Mencoba mengerti maksud dari kata-kata soal itu, tapi koq kayaknya tidak masuk-masuk. Sambil mencoret-coret enggak jelas, aku mulai menghitung-hitung dengan rumus sekenanya. Tiba tiba sebuah tangan menepuk mejaku keras-keras, “Dit!....” Aku terlonjak.

Joyce berdiri di samping mejaku sambil senyum-senyum. Rasa kagetku masih belum hilang. “Ngapain di kelas aja?” Tanyanya, masih sambil senyum-senyum seenaknya. Tangannya mulai iseng, ikut-ikut membuka halaman buku Kimiaku. “Aku lagi pusing, Jo, Kimiaku jeblok!” Jawabku, setengah berbisik.

“Emang, kamu dapet berapa?”

“Malu ah Jo, cuma tiga…”

“Ha…ha… masih pinteran aku dong…”

“Kamu berapa?”

“Empat!! Ha…ha…ha…” Tawa Joyce menggema ke seantero kelas yang kosong.

Aku tidak terlalu menanggapi komentarnya. Masalahnya, rasa grogi mulai menyerang diriku. Ya, siapa sih tidak kenal Joyce di sekolah ini. Ia mulai masuk di kelasku pada pertengahan semester satu ini, mengikuti ayahnya yang pindah dari Sorong ke Jakarta. Joyce yang penampilan pertamanya saja bikin kaum cowok di kelas ini jadi tak konsen. Joyce yang ramah dan selalu tertawa lepas, tidak pernah tampak jaim, malah kaum cowok yang jadi jaim kalau berhadapan dengannya. Maka, saat dia berdiri di samping mejaku, di jam istirahat siang ini, waktu rasanya berhenti berputar.

“Eh, kamu lagi ngerjain apa, Dit?” Tanyanya, menyentak lamunanku.

“Ah… ini, lagi nyoba-nyoba soal Peperzak. Biar agak ngerti dikit…” Jawabku dengan setengah bergetar.

“Coba lihat… Eh, soal ini nih yang keluar ulangan kemarin. Coba Dit, kerjain deh..” Pinta Joyce, yang suaranya membuatku otomatis-tanpa sadar-mengambil pensil dan mulai corat-coret perhitungan persamaan kimia.

Ajaib!

Tiba-tiba koq aku bisa menangkap pertanyaan dari soal ini. Dan kurang dari dua menit, selesailah! Joyce segera mencocokkannya dengan kunci, dan…. Ternyata benar 100%.

“Ih… Didit, ternyata kamu pinter, nih buktinya bisa… Eh coba lagi deh yang nomor berikutnya…” Pintanya lagi, sambil sedikit menggamit lenganku. Seakan mendapat kekuatan entah dari mana…. Walah ternyata soal kedua inipun bisa kulalap dengan sempurna.

“Wah… emang bener kamu pinter Dit. Lain kali aku bisa numpang belajar bareng dong ya…” Ujar Joyce penuh semangat. Tanpa menunggu responku, ia berlalu sambil membawa kertas coret-coretan tadi. Aku masih terpana, takjub dengan kemampuan kimiaku yang baru saja terkuak, setelah sekian lama tersembunyi di bawah skor 4!

**********

Aku menengok kiri kanan, memastikan bahwa semua teman sekolah sudah bubar. Setelah yakin aman, segera kukeluarkan sepeda bututku dari balik pos satpam. Setiap hari sejak kubeli dari pasar loak Gang Asem dua minggu lalu, sepeda ini selalu kusembunyikan di sini. Bukannya apa-apa, tetapi saat motor bebek SuperCub sedang menjadi tren tahun 84 ini, membawa sepeda, apalagi bekas dan butut-catnya sudah belang- pasti akan jadi tontonan dan bahan sorakan seru.

Kucantelkan tas selempangku di pundak, melompat naik ala nyemplak kuda, dan kumulai kayuhan pertama…

“Diiiiitttt……..!”

Tak bisa kukuasai lagi peganganku pada setang sepedaku. Maka terjatuhlah sang sepeda warna biru-pink-hijau tembok ini, bergedubrakan bersama tubuhku dan isi tas yang tumpah ruah. Aku benar-benar kaget!

“Aduh… aduh… kalau baru bisa naik sepeda hati-hati dong…”

Dalam keadaan setengah tengkurap, aku mencoba mencari asal suara itu. Seorang gadis berambut sebahu tampak tengah memunguti isi tasku dan memasukkannya. Itu Joyce, yang tadi siang membuatku bisa menyelesaikan soal Peperzak.

Aku diam terduduk, masih tak mampu berdiri karena perasaan campur aduk, antara sakit di dengkul, rasa malu dan masih sedikit kaget. “Nih tasnya.” Joyce menyerahkan tas selempangku sambil menarik tanganku mencoba membantuku berdiri. Terlambat, aku sudah tidak bisa menyembunyikan keberadaan sepeda bututku dan statusku yang malu banget.

“Makasih…” Jawabku tanpa berani memandang wajahnya.

“Emang tiap hari kamu naik sepeda ke sekolah Dit?” Tanya Joyce dengan nada lugu.

“Iya…” Ya sudahlah, toh aku tak bisa menyembunyikannya.

“Padahal sudah enggak ada lho yang naik sepeda ke sekolah.” Ujarnya, “Tapi dulu di kampungku masih banyak. Yang naik motor cuma yang berduit saja.”

Ya, tentu saja, aku juga tahu. Kalau aku punya duit banyak pasti juga beli motor SuperCub itu.

Joyce melihat ke sepedaku, tangannya mencoba meraih setangnya, dengan pandangan yang sulit diduga.

“Aku kangen naik sepeda Dit. Udah lama sejak pindah ke Jakarta, aku enggak pernah naik sepeda.”

“Di rumah kamu enggak ada sepeda?” Tanyaku, kali ini seakan ikut terbawa perasaannya.

“Iya. Kangen lho naik sepeda ke sekolah ramai-ramai seperti dulu di Sorong.”

“Bukannya sekarang lebih enak, Jo, kan kamu diantar jemput sopir.”

Joyce tidak menjawabku. Tangannya sekarang sudah memegangi setang, dan tangan yang satunya mengelus-elus sadel sepeda jengki itu.

Tiba-tiba di luar dugaanku, Joyce berkata, “Dit, pinjam sebentar ya, aku putar-putar di lapangan parkir ini aja. Boleh ya, Dit…”

Aku hanya bisa mengangguk. Tanpa menunggu isyarat lebih jauh, ia segera nyemplak ke sadel sepedaku yang cukup tinggi-maklum, ukuran tukang ojek. Dan segera saja ia sudah berkeliling lapangan parkir.

Joyce tampak senang sekali. Rambutnya tergerai-gerai tertiup angin. Senyumnya tak lepas-lepas, memamerkan sederet gigi putih kemilau yang rapi. Joyce memang bukan asli Papua. Dulu, ayahnya yang pejabat di perusahaan minyak ditugaskan ke Sorong, dan ia lahir serta besar di sana. Sekarang, ayahnya kembali bertugas ke Jakarta. Tapi, yang kuperhatikan saat ini, bukanlah anak seorang berada yang biasa naik turun mobil. Yang di hadapanku, bersepeda berkeliling lapangan parkir adalah suatu pemandangan indah di sore hari. Seorang gadis cantik yang seakan terpukau oleh kegembiraan seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah baru.

Akhirnya, kamipun saling bergantian naik sepeda itu, tertawa-tawa menikmati sore yang tidak panas ini. Joyce tak perduli, sopirnya sudah lama menunggunya. Hampir dua jam kami saling bersepeda. Setelah itu, kami duduk di tepi lapangan parkir, di bawah naungan pohon mahoni.

“Dit, boleh ya kalau besok-besok aku pinjam sepeda kamu.”

Aku mengangguk dan tersenyum, lupa bahwa dua jam lalu, aku masih merasa malu dengan sepeda jengki butut ini. Sekarang si jengki berdiri di atas sandarannya, tampak gagah, di hadapan kami. Kami lalu membahas rencana untuk mempercantiknya. Joyce bahkan sudah bertekad Sabtu ini untuk mengecat ulang sepedaku, yang belum kami sepakati warnanya. Habis, dia ngotot minta perpaduan merah muda dan ungu. Tapi aku tak perduli segala rencana lainnya. Yang jelas, sejak itu, kami menjadi begitu akrab.

**********

Maka, sejak peristiwa soal Kimia dan sepeda jengki ini, hidupku terasa berubah begitu banyak. Sekarang Kimia bukan lagi mata pelajaran yang menyeramkan, setidaknya skor minimalku adalah 7. Dan sepeda jengkiku… sekarang sudah jadi milik kami, aku dan Joyce. Aku tidak malu lagi menungganginya ke sekolah dan parkir di antara SuperCub dan GL-Pro. Hanya aku masih belum setuju rencana Joyce untuk melekatkan pita-pita warna-warni di setangnya.

## by Dytra: Suatu siang di 1984 ##